3.227 Dilihat

Menjalankan bisnis dalam industri angkutan udara niaga adalah hal yang tidak mudah, selain  secara finansial membutuhkan modal usaha yang besar yang juga sangat penting adalah harus didukung dengan sumber daya manusia yang memadai serta handal. Namun pada kenyataannya di Indonesia, seringkali SDM terutama di luar Air crew ( Cockpit & Cabin ) tidak dianggap sebagai asset perusahaan melainkan hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Bagaimanakah sebenarnya kondisi kualitas SDM penerbangan di tanah air ?

Standarisasi Dalam Dunia Penerbangan Secara Global

Berdasarkan Annex no 1 dari ICAO dinyatakan bahwa :As long as air travel cannot do without pilots and other air and ground personnel, their competence, skills and training will remain the essential guarantee for efficient and safe operations. Adequate personnel training and licensing also instill confidence between States, leading to international recognition and acceptance of personnel qualifications and licences and greater trust in aviation on the part of the traveller “.

Jadi perlu digaris bawahi bahwa bukan hanya Air Crew ( Cockpit dan Cabin Crew ) saja yang harus memenuhi  standar kualifikasi yang memadai. Faktor Safety dan Service merupakan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan yang harus dipahami seluruh karyawan dalam sebuah maskapai penerbangan. Memang untuk para karyawan yang berhubungan langsung dengan operasional  dan teknis  ( Pilot, Flight Attendant, FOO, Mechanic , Ground handling officer dan sebagainya ) dalam sebuah maskapai, standar kualifikasinya sudah diatur dengan jelas melalui Annex  dan ICAO Training manual . Yang masih belum diatur dengan jelas ialah standar kualifikasi dari karyawan maskapai yang berfungsi sebagai penunjang operasional ( Check in Counter staffTicketing/ReservationCargo Handling dan sebagainya ) atau yang karyawan yang tidak berhubungan langsung dengan operasional dan teknis  ( Keuangan, HRD dan sebagainya ). Sepanjang perjalanan ICAO sebagai organisasi sentral penerbangan sipil, telah muncul bermacam-macam organisasi, asosiasi profesi, federasi lainnya yang turut berkontribusi dan berupaya untuk meningkatkan keselamatan. ICAO di samping mengembangkan standar juga melakukan pengawasan dalam bentuk penilaian kepada 191 otoritas penerbangan sipil di negara yang menjadi anggotanya. ICAO tidak melakukan penegakan aturan seperti pelarangan terbang atau penetapan kategori keselamatan dari sebuah negara sebagaimana yang dilakukan oleh Uni Eropa dan FAA. Di samping ICAO ada badan dan organisasi lainnya yang juga turut melakukan pengawasan dalam bentuk audit terhadap kinerja maskapai dan otoritas di sebagian besar negara di dunia. Kondisi ini menggambarkan bagaimana ketat dan pedulinya masyarakat dunia terhadap upaya tersebut. Disinilah IATA juga mengambil peran untuk melakukan standarisasi serta pelatihan bagi seluruh karyawan maskapai penerbangan agar semakin meningkatkan keamanan dan pelayanan kepada para penumpang pengguna jasa maskapai tersebut. Secara global, IATA memberikan berbagai standard yang berlaku secara International antara lain Airlines operation , Ground Handling , Safety, Cargo dan lain lain. Pelatihan yang diselenggarakan oleh IATA juga mencakup berbagai bagian mulai dari Finance, Human Resource, Law, Marketing  hingga ke Travel business. Salah satu standard dari IATA yang saat ini menjadi benchmark penting bagi maskapai penerbangan ialah IOSA ( IATA Operational Safety Audit ). Beberapa negara ( Amerika, Uni Eropa, Skandinavia ) telah menjadikan IOSA ini sebagai mandatory standard bagi airlines yang beroperasi di negara nya. Saat ini Sertifikasi dari IATA juga semakin memegang peranan penting dalam industri penerbang. Berdasarkan data dari IATA pada tahun2012 58,1 juta orang bekerja dalam dunia penerbangan dan diprediksi tahun 2023 akan meningkat menjadi  103,1 juta orang. Dari data tersebut dapat dilihat sedemikian potensial pangsa pasar untuk SDM dalam dunia penerbangan.

Kenyataan Yang Ada Dalam Industri Penerbangan Indonesia

Di Indonesia pengaturan mengenai sertifikasi serta standar terhadap SDM penerbangan mengacu berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No.21/2015 tentang Standard Keselamatan Penerbangan. Menurut Direktur Keamanan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Yurlis Hasibuan diisyaratkan bahwa Seluruh SDM penerbangan harus ditangani personal yang mampu dan menguasai bidang tugasnya. Mereka juga sudah mempunyai sertifikasi yang diatur dan ditetapkan pemerintah (Beritatrans.com , 2015). Permenhub tersebut juga mengatur dan menetapkan mengenai standard pelayanan minimum (SPM) sektor penerbangan termasuk SDM penerbangan yang meliputi SDM bandara, maskapai dan navigasi penebangan. Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo mengatakan bahwa semua SDM yang terlibat harus professional di bidangnya masing-masing. Seluruh SDM transportasi ke depan harus dilengkapi dengan sertifikasi yang jelas di bidang kerja masing-masing. Seluruh sekolah transportasi khususnya di BPSDM Perhubungan harus dipastikan memenuhi ketentuan dan kualifikasi international (Beritatrans.com , 2015). Berdasarkan keterangan – keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa saat ini fokus dari pemerintah sebagai regulator adalah masih pada standar SDM untuk Awak Udara (Cockpit dan Cabin Crew)dan mereka yang bersentuhan dengan bidang operasional serta teknis berdasarkan regulasi dari ICAO. Padahal ini adalah ketentuan minimal yang nampaknya sampai saat ini pun masih belum bisa terpenuhi. SDM di luar bidang-bidang itu nampaknya masih belum menjadi prioritas perhatian Pemerintah. Oleh karena itu pihak maskapai penerbangan sebagai operator dituntut lebih aktif mengambil inisiatif untuk mencari terobosan dalam upaya meningkatkan kualitas SDM nya di luar dari yang telah ditentukan pemerintah  dalam menghadapi persaingan di pasar global. Kebanyakan Maskapai lokal di Indonesia terlihat enggan melakukan investasi yang besar untuk peningkatan kemampuan SDM nya kecuali itu diisyaratkan sebagai mandatory dalam peraturan pemerintah. Prioritas finansial lebih difokuskan untuk Bahan bakar, Perawatan pesawat dan Infrstruktur wajib yang digariskan oleh peraturan pemerintah. Selain itu juga sesuai tuntutan program CSR (Corporate Social Responsibility) dari beberapa maskapai yang lebih mengutamakan untuk mempekerjakan SDM dari sekitar bandara ataupun masyarakat lokal, yang terus terang kualitas pendidikan umumnya ternyata juga kurang memadai. Ini juga menjadi kendala tersendiri saat mereka harus mengikuti training dengan standar global. Contoh kecil yaitu dalam penguasaan bahasa asing (Inggris) yang masih jauh dari standar yang dibutuhkan sehingga dalam menerima materi training pun akan menjadi sulit. Belum lagi kadangkala ditambah pula dengan pola pikir dan mental kerja yang masih bisa dikatakan belum dalam tingkatan memadai .

Tantangan Berat di Depan Mata

Training untuk SDM industri penerbangan Indonesia di bagian pelayanan penumpang, penjualan dan administrasi masih terbatas dan kebanyakan belum memenuhi kualifikasi standar dalam industri penerbangan global. Hal ini tentunya menjadi salah satu titik lemah bagi dunia penerbangan Indonesia terutama dalam menghadapi Asean Open Skies 2015. Dengan potensi pasar yang sedemikian besar, tentunya bisnis industri penerbangan di Indonesia mempunyai daya magnet yang besar bagi pengusaha serta SDM dari negara – negara tetangga di ASEAN. SDM dari negara ASEAN yang memiliki standar Industri penerbangan yang lebih baik seperti Singapura, Malaysia dan Thailand akan berduyun – duyun menyerbu masuk dalam kancah industri penerbangan di Indonesia.Hal ini akan berdampak buruk bagi SDM di industri penerbangan Indonesia yang belum memenuhi standar global dan belum siap menghadapi persaingan ini. Kata Kunci nya ialah Kemauan untuk berubah. Tanpa kesadaran dari semua stakeholder industri penerbangan di Indonesia , lambat laun SDM Indonesia akan tergeser oleh tenaga kerja asing dari negara tetangga dan akhirnya hanya sekedar menjadi penonton di rumahnya sendiri. Sungguh sebuah ironi yang tidak boleh terjadi dalam dunia industri penerbangan di Indonesia.

Antonius LisliyantoPraktisi dan pengamat dunia penerbangan Indonesia.

admin Informasi ,

42 Replies

  1. Ping-balik: adhd for sale
  2. Ping-balik: ctrct
  3. Ping-balik: their info
  4. Ping-balik: find out more
  5. Ping-balik: strapon dildo
  6. Ping-balik: CARGO HOLIDAYS
  7. Ping-balik: about
  8. Ping-balik: X Men Arcade
  9. Ping-balik: about
  10. Ping-balik: realistic dildo
  11. Ping-balik: Tritium Night Sights
  12. Ping-balik: bàn học cho bé
  13. Ping-balik: best sex toys
  14. Ping-balik: beginner bondage toys
  15. Ping-balik: cumming dildos
  16. Ping-balik: Mossberg 930 for sale
  17. Ping-balik: dildo
  18. Ping-balik: alex more
  19. Ping-balik: shotgun for sale
  20. Ping-balik: slot online
  21. Ping-balik: myths about sex
  22. Ping-balik: butt plugs
  23. Ping-balik: Guns for Sale
  24. Ping-balik: strap on harness
  25. Ping-balik: pocket pussy
  26. Ping-balik: THC Oil for Sale
  27. Ping-balik: PARROTS FOR SALE
  28. Ping-balik: software review
  29. Ping-balik: COMMERCIAL FLOUR MILL
  30. Ping-balik: kratom capsules
  31. Ping-balik: best kratom
  32. Ping-balik: buy Instagram likes

Comments are closed.